Kasus 1998, Prabowo Sadar Dirinya Menjadi Tumbal

RIMANEWS- Rentetan kerusuhan menjelang hingga sesudah Soeharto lengser dari kursi kepresidenannya, pada 1998, disadari calon presiden nomor urut 1, Prabowo Subianto, menjadi hal penting. “Prabowo sadar dirinya menjadi tumbal,” kata pengasuh Pondok Pesantren Kempek, KH Said Agil Siradj, di Cirebon, Jawa Barat, Jumat (27/6). Prabowo bersilaturahmi dengan para kyai dan pengasuh pondok pesantren di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) se-Jawa Barat, di Pondok Pesantren Kempek, Kabupaten Cirebon. Para kyai dan pengasuh pondok pesantren yang hadir yakni KH Mustofa Sirajd (Pondok Pesantren Kempek), dan Abah Anom (Pondok Pesantren Suralaya). Sementara dari kalangan ningrat Cirebon, yaitu Sultan Saladdin (Kesultanan Kanomanan Cirebon), Pangeran Arief (Kasepuhan Cirebon), selain Ketua PWNU Jawa Barat, Eman Sulaeman, Ketua DPD Golkar Jawa Barat, Irianto MS Saifuddin, dan Wali Kota Cirebon, Ano Sutrisno. Ucapan Prabowo tentang dia menjadi tumbal itu, kata Siradj, mengutip pembicaraan Prabowo dengan mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, di rumahnya, di bilangan Ciganjur, Jakarta Selatan. (ati/ant) Baca Juga Jokowi: Kepintaran Kalah dengan Kesabaran Pesan Prabowo untuk Peserta Aksi 2 Desember Setya Novanto Datangi Rumah Prabowo Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Fokus Isu , prabowo , Tumbal , Kasus 1998 , Fokus Isu , prabowo , Tumbal , Kasus 1998

Sumber: RimaNews