Penyuap Pejabat Ditjen Pajak Berafiliasi dengan Lulu Group International

Jakarta – Presdir PT EK Prima Ekspor Indonesia, Rajesh Rajamohanan telah ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka pemberi suap. Pemberian suap dilakukan kepada Kasubdit Bukti Permulaan Direktorat Penegakan Hukum Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan (Ditgakum Ditjen Pajak Kemkeu), Handang Soekarno. Rajesh diduga memberikan suap sebesar USD 148.500 atau sekitar Rp 1,9 miliar dari total kesepakatan Rp 6 miliar. Suap ini diberikan agar Handang mengurus sejumlah persoalan pajak yang dihadapi PT EK Prima Ekspor Indonesia. Salah satunya Surat Tagihan Pajak (STP) sebesar Rp 78 miliar. Berdasar informasi yang diperoleh, PT EK Prima Ekspor Indonesia bergerak di sejumlah sektor seperti retail, garmen, hasil bumi, dan lainnya. Perusahaan multinasional yang telah beroperasi di sejumlah negara ini merupakan anak perusahaan Lulu Group International atau EMKE Group yang berbasis di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA). Di kelompok usaha milik pengusaha Yusuf Ali MA ini, Rajesh juga menjabat sebagai salah satu direksi. Lulu Group International merambah berbagai negara melalui bisnis ritel, Lulu Hypermarket. Di Indonesia, Lulu Group menancapkan kuku usahanya dengan membangun Lulu Hypermarket di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Selain itu, Lulu Group juga memiliki beberapa pusat perbelanjaan di sejumlah negara, seperti Khalidiyah Mall, Al Raha Mall, Al Wahda Mall, Mushriff Mall, Madinat Zayed Mall, Mazyad Mall, Ramli Mall, RAK Mall, Al Foah Mall dan Al Khor Mall. KPK memastikan kasus suap pajak ini tidak berhenti dengan menangkap dan menetapkan Rajesh dan Handang sebagai tersangka. Wakil Ketua KPK, Laode M Syarief menyatakan, pihaknya akan terus mengembangkan kasus ini, termasuk mengusut pihak-pihak lain yang terlibat. “Tentunya kalau ada pihak lain terlibat dalam kasus ini KPK akan menelusurinya,” katanya. Pengusutan terhadap pihak lain yang terlibat terbuka lebar karena Kemkeu membuka akses yang sebesarnya kepada KPK untuk mendalami kasus ini. Dugaan adanya pihak lain yang terlibat lantaran dengan jabatannya sebagai Kasubdit Bukti Permulaan, seluruh kasus pajak akan melalui meja kerja Handang. “Ya dia kan Kasubdit Bukti Permulaan. Jadi semua lewat dia kasus-kasus pajak,” ungkap Syarief. Diketahui KPK menangkap Handang dan Rajesh usai bertransaksi suap pada Senin (21/11) malam. Dari tangan Handang, tim satgas KPK menyita uang sebesar USD 148.500 atau sekitar Rp 1,9 miliar. Diduga, uang tersebut merupakan pemberian pertama dari yang disepakati sebesar Rp 6 miliar. Uang suap ini diberikan kepada Handang untuk mengurus sejumlah persoalan pajak yang dihadapi PT E.K Prima Ekspor Indonesia. Salah satunya, terkait surat tagihan pajak (STP) PT E.K Prima sebesar Rp 78 miliar. PT E.K Prima Ekspor Indonesia merupakan anak perusahaan dari Lulu Group International yang berkantor pusat di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Rajesh juga menjabat sebagai salah satu direksi di Lulu Group yang usahanya bergerak di bidang retail. Setelah diperiksa secara intensif, Handang ditetapkan KPK sebagai tersangka penerima suap dan disangka melanggar Pasal 12 ‎huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 UU nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Sementara Rajesh ditetapkan KPK sebagai tersangka pemberi suap dan dijerat dengan Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU nomor 31 tahun 1999 ‎sebagaimana telah diubah UU nomor 20 tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Fana Suparman/YUD Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu