Mesjid Al Muttaqin Tertua di Manado Dibangun 1775, Direnovasi Umat Nasrani

Result Sydney Sejak turun temurun pendirian mesjid Al Muttaqin mendapat dukungan dan partisipasi dari umat Nasrani yang tinggal di sekitarnya. Kerukunan yang dibina bertahun-tahun membuahkan persaudaraan. Dibuktikan untuk pengecoran lantai dua mesjid dilakukan oleh umat Nasrani yang tinggal di sekitar mesjid. Laporan Charencia Repie MESJID ini didirikan tahun 1977. Awal mulanya para pembawa agama muslim datang dari Ternate yaitu pulau Makian zaman Sultan Babula. Mereka datang ke daerah yang dengan pesisir dan mempunyai terumbu karang. Nelayan mayoritas profesi mereka, sambil terus mengajarkan agama Islam. Makin hari pengikut semakin banyak, sehingga maka didirikanlah sebuah musolah dan selanjutnya menjadi mesjid. Resiko dekat pantai adalah abrasi, maka bangunan mesjid yang awal mulanya berada di ujung jalan dipindahkan ke lokasi sekarang di Pondol (dalam bahasa Borgo, Pondol adalah ujung). Biaya dari pembangunan rumah ibadah tersebut berasal dari pendapatan mereka sebagai nelayan. Mereka terpaksa mendirikan mesjid di pinggir pantai, karena tidak diperkenankan oleh pemerintah Belanda membangunnya di pinggir jalan protokol saat itu. Maka mesjid didirikan dan dinamai Al-Muttaqin yang artinya orang takwa. Banyaknya pengikut membuat daya tamping di mesjid tidak memadai, sebagian pembawa ajaran Islam dari Ternate melanjutkan perjalanan mereka ke tempat lain yang juga masih di pinggiran pantai. Kampung Ternate dan kampung Ketang Tua serta Kampung Ketang Baru tempat yang dituju setelah Pondol. Tahun 1964 imam yang bertugas di mesjid tersebut ialah Haji Muhammad Al-Buchari. Beliau begitu gigih dalam memperjuangan sehingga mesjid tua tersebut, didirikan dua tingkat supaya dapat menampung jemaat yang datang untuk sholat. Tahun 1973, pembangunan lantai dua mulai dilakukan, dana yang digunakan berasal dari jemaah dan masyarakat sekitar. Bahkan, umat Nasrani yang berada disekitarnya juga menyumbangkan dana untuk pembangunan. Bukan hanya itu saja, untuk perampungan lantai dua dilakukan juga oleh umat Nasrani. Bentuk dan cirri kerukunan yang sangat dinamis yang terus dipertahankan secara turun temurun di Pondol, kerjasama yang baik selalu tercipta membuat masyarakat yang tinggal di dalamnya selalu merasa aman dan nyaman. Menurut Al-Buchari, untuk membangun mesjid setiap hari dikumpulkan uang lewat jemaah dan sumbangan dari masyarakat sekitar. Setiap Minggu dilakukan pembelian bahan material dan langsung bergerak untuk melakukan pengecoran dan perenovasian bagunan. “Saya tidak mengalami kendala untuk membangun mesjid ini. Pendekatan yang saya lakukan pada jemaah dan masyarakat sekitar membuat kami semua saling bergandengan tangan, sehingga mesjid ini dapat diselesaikan sampai lantai dua,” jelasnya. Kerukunan antar umat beragama yang tercipta, membuat masyarakat di Pondol menjadi saudara satu dengan yang lainnya. Perbedaan dan kemajemukkan yang ada di masyarakat dijadikan suatu senjata untuk mempertahankan persatuan dan kesatuan. “Tidak ada huru hara di Pondol, sebab kami disini saling menyayangi sebagai saudara,” ungkap Al-Buchari. Di bulan puasa ini, yang bertugas menjaga ketertiban saat umat muslim sholat di mesjid ialah para pemuda dari Nasrani. “Mereka dengan senang hati menjaga keamanan, dari segi keadaan maupun sandal yang diletakkan di depan mesjid dijaga supaya tidak ada yang mencurinya,” kata kakek kelahiran tahun 1939 ini. Untuk pembatalan puasa, hampir setiap hari juga diberikan penganan atau makanan dan minuman ringan dari mereka kepada umat muslim yang sedang berpuasa. Luar biasa kerukunan dan kebersamaan di Pondol. Ada juga yang menarik, untuk pemakaman umat muslim dilakukan oleh umat Nasrani dan begitu juga sebaliknya. Budaya torang samua basudara sangat kental di Pondol. Hal inilah aset Sulut di dunia nasional maupun internasional.(*) 0 share 0 tweet 0 +1

Sumber: JPNN