Gubernur DIY Minta Aparat Tegas Tindak Pelaku Aksi Klithih

Yogyakarta – Polisi terus menyisir remaja pelaku kekerasan yang telah memakan korban jiwa, siswa SMA Muhammadiyah 1 (Muhi) Yogyakarta, dan tersangka yang berhasil diamankan bertambah menjadi 10 orang. Kasatreskrim Polres Bantul AKP Anggaito Hadi Prabowo menjelaskan dari 10 orang pelaku yang semuanya masih berstatus pelajar setingkat SMA itu, sembilan di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka, bahkan delapan di antaranya kini sudah ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Pajangan. “Sampai Rabu (14/12) malam, pelaku bertambah lagi 5 orang. Dengan begitu, jumlah pelaku yang sudah diamankan oleh Satreskrim Polres Bantul berjumlah 10 orang,” terangnya. Anggaito menyampaikan, tidak menutup kemungkinan, pelaku akan bertambah mengingat jumlah kendaraan pelaku yang terdiri dari delapan motor. “Belum bisa dipastikan siapa yang pasti melakukan pembacokan, tetapi berat-ringannya kejahatan akan sama, karena mereka melakukan penyerangan dengan terencana,” tegasnya. Terpisah, menanggapi aksi anarkis hingga menyebabkan kematian, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa meski pelakunya masih tergolong anak-anak atau sesuai hukum masih dikategorikan di bawah umur, namun tingkat kejahatannya menyamai orang dewasa. Karena itu, Sultan meminta Kepolisian untuk menindak tegas tindakan kekerasan dan kriminalitas yang dilakukan anak muda di jalan atau klithih . “Penegak hukum harus melakukan tindakan yang tegas menghadapi fenomena klitihih di DIY karena ini bukan lagi kenakalan remaja tetapi tindakan melanggar hukum. Hanya penegakan hukum merupakan satu-satunya cara untuk mengurangi pelanggaran pidana, termasuk yang dilakukan anak-anak muda ini,” tegas Sultan. Terkait dengan pemberlakuan hukum yang berbeda dalam UU Perlindungan Anak, Sultan mengungkapkan, bahwa hukuman harus tetap disesuaikan dengan bentuk kejahatan. “Kalau sudah tega mencabut nyawa seseorang, itu sudah bukan kenakalan lagi, tetapi tindakan sadisme yang harus dihukum sesuai perilakunya,” ujar Sultan. Bahkan menurut Sultan, pemberlakuan jam malam bagi anak-anak muda di DIY sudah tidak efektif, tetapi hukumlah yang mampu memberikan efek jera. “Kalau sekedar dikembalikan kepada orangtua, saya rasa itu tidak akan membuat anak jera. Para pelaku sebaiknya dipenjara dan bisa jadi contoh bagi yang lain,” ucap Sultan. Sultan menegaskan, siapa saja, tidak boleh menolelir aksi klithih . Sementara itu, pada Rabu (14/12) petang, jajaran Kepolisian Kota Besar (Poltabes) Yogyakarta, membubarkan ratusan pelajar yang berniat melakukan penyerangan ke sejumlah titik di Kota Yogyakarta. Kapolresta Yogya, Kombes Pol Tommy Wibisiono menjelaskan rombongan remaja yang jumlahnya mencapai ratusan berupaya menyerang sebuah sekolah swasta di Jalan Sudirman, Kota Yogya, karena itulah polisi terpaksa membubarkan dengan melepaskan tembakan peringatan. “Sejak Selasa (13/12) kami telah menyiagakan anggota di sejumlah sekolah di Kota Yogyakarta, dan benar, ada rombongan pelajar yang berniat menyerbu salah satu sekolah. Ratusan pelajar itu, mengendarai sepeda motor di sepanjang Jalan Solo dari arah timur ke barat, dengan menggeber knalpot dan berteriak-teriak,” terangnya. Menurut Tommy Wibisono, paska kejadian pembacokan di Bantul, polisi mensinyalir akan adanya aksi balasan. “Prediksi itu terjadi dan di Jalan Sudirman, ratusan rombongan pelajar itu berupaya melakukan penyerangan namun berhasil digagalkan. Petugas di lapangan pun mengeluarkan tembakan berkali-kali untuk membubarkan mereka karena mencoba masuk ke dalam sekolah,” ujarnya. Potensi Ancaman Menanggapi aksi saling balas dan kriminalitas remaja, Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto menegaskan bahwa kenakalan remaja masuk dalam tujuh potensi ancaman yang mengganggu keamanan dan kertertiban umum di DIY. “Sama halnya praktik kapitalisme, ancaman radikalisme, terorisme, separatisme, narkoba, serta lemahnya kontrol sosial, kenakalan remaja termasuk potensi gangguan keamanan,” katanya. Lemahnya kontrol sosial membuat keadaan menjadi kurang kondusif hingga menyebabkan terjadinya degradasi kepedulian antar warga yang mengakibatkan sikap acuh. Kenakalan remaja, yang menjurus pada kriminalitas, menjadi sesuatu yang serius, dan tidak bisa dipandang remeh. Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda DIY Kombes Pol Frans Tjahyono menyampaikan bahwa aksi klithih masih menjadi perhatian serius Kepolisian, dan untuk mempersempit ruang gerak remaja klithih , pihaknya berupaya meningkatkan patroli di sejumlah titik yang dianggap rawan. Sebagai tindakan preventif, kata Frans, polisi akan menindak gerombolan pelajar atau pemuda yang nongkrong di lokasi tertentu tanpa kejelasan. Langkah itu sekaligus mencegah potensi tawuran. ”Meski baru akan berbuat, para pelajar dikenai sanksi pembinaan,” tegas perwira menengah dengan tiga melati di pundak itu. Di sisi lain, jika ulah gerombolan sudah menjurus pada tindak kriminal, polisi tetap akan mengusut perkara dan memprosesnya sesuai aturan hukum. ”Hukumnya sudah jelas. Anak-anak di bawah umur dilindungi Undang-Undang Perlindungan Anak, sehingga ada keselarasan dengan hukum pidana yang diterapkan,” ucapnya. Fuska Sani Evani/FMB Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu